I M A N

Pengertian Iman

Dalam pengertian umum, iman memang diartikan percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)

Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:

Inti Iman Kristen

Dari semua kebenaran firman Tuhan yang kita imani, ada kebenaran yang merupakan inti dari iman seorang Kristen. Inti dari kebenaran ini ada di I Korintus 15:3-4, ialah:

Ini merupakan inti dari iman seorang Kristen, tanpa iman akan hal ini maka iman terhadap hal-hal yang lain tidaklah ada gunanya.

Contoh iman dari Abraham

Abraham disebut oleh Alkitab sebagai Bapak orang beriman. Kita perlu mempelajari bagaimana dia bisa disebut demikian, dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bahwa dia akan mempunyai keturunan yang banyak dan mendapatkan tanah yaitu Kanaan (Kejadian 12:1-3). Saat itu Abraham berumur 75 tahun dan istrinya berumur 74 tahun.

Abraham percaya kepada janji Allah itu. Dia meninggalkan tanah leluhurnya di Urkasdim dan menuju tanah Kanaan. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Roma 4:3) Mengapa Abraham percaya? Apakah karena ada dasar untuk berharap? Tidak! Saat itu Abraham sudah tua dan rahim dari istrinyapun sudah tertutup. Tapi Alkitab mencatat:

Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah nanti banyak keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia tidak mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya, sebagai kebenaran. (Roma 4:18- 22)

Iman Abraham terbukti dari tindakan dan ketekunannya. Abraham bertindak dengan meninggalkan tanah leluhurnya dan menuju tanah yang dijanjikan Allah. Abraham mendapatkan anak saat ia berumur 100 tahun. Selama 25 tahun dia menantikan janji Allah dengan tekun.

Namun Alkitab juga mencatat tindakan Abraham yang tidak berkenan kepada Allah. Selama menunggu janji Allah tersebut, Abraham sempat meragukan kemampuan Allah. Dia tahu bahwa Allah menjanjikan anak kepada dia. Tapi istri dia (Sarah) rahimnya sudah tertutup, secara akal sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Dari pemikiran inilah dia berusaha untuk "menolong" Allah. Atas nasihat istrinya, Abraham mengawini hambanya, yaitu Hagar. Dan mempunyai seorang anak yaitu Ismael. Dari tindakan inilah Abraham berpikir dia bisa "menyelamatkan" rencana Allah. Padahal rencana Allah tetap bahwa anak perjanjian itu haruslah berasal dari Sarah. Tindakan Abraham yang berusaha "menyelamatkan" rencana Allah ini, justru mengakibatkan bencana di kemudian hari.

Bagaimana iman bisa bertumbuh?

Kalau kita baca Alkitab, ada empat hal yang merupakan kehidupan dasar seorang Kristen. Keempat hal tersebut yaitu: doa, firman, bersekutu dan bersaksi. Keempat kegiatan ini harus dilakukan dengan seimbang. Tidak boleh ada salah satu jari yang tidak ada atau kurang. Sampai kapanpun kita tetap harus melakukan ke-empat kehidupan dasar kekristenan ini. Meskipun kerohanian kita sudah matang dan jabatan kerohanian kita sudah tinggi, ke-empat hal ini tetaplah harus kita jalankan sebagai kehidupan sehari-hari. Akan terjadi kepincangan dalam hidup kalau ada yang tidak seimbang dari keempat kegiatan ini. (Untuk pembahasan lebih jauh, bacalah buku "Pelayanan dalam Gereja" bab "Kewajiban orang Kristen dan Karunia Roh.")

Mempraktekkan iman kita

Kita memang perlu bertumbuh dalam kemampuan berpikir, merencanakan dan memanajemen. Tapi sebagai orang Kristen, harus ada sesuatu yang lain dari hanya sekedar kemampuan otak saja. Kita harus mempraktekkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Justru iman kita butuhkan karena ada hal-hal yang tidak bisa dicapai secara akal. Saat inilah kita membutuhkan iman. Kita perlu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita, tapi yang Allah suruhkan untuk kita lakukan. Itulah fungsinya iman. Kalau kita hanya melakukan sesuatu di batas kemampuan kita saja, yah, kita tidaklah membutuhkan iman.

Salah satu hal utama yang membuat iman kita tidak bertumbuh yaitu: "Kita memilih untuk tinggal dalam posisi aman." Kalau kita mau melatih iman kita, kita harus berani untuk melakukan tindakan beresiko tapi yang diperintahkan Tuhan. Kalau kita bertindak dengan iman, memang akan ada resiko untuk malu, dicemooh, dikucilkan, dikata-katai orang lain dsb.

Salah satu hal yang banyak dicatat dalam Alkitab, yaitu kita perlu untuk mengatakan iman kita sebelum hal itu terjadi. Ini memang mengandung resiko, tapi itulah latihan beriman. Kalau kita "beriman" setelah peristiwa itu sudah terjadi, itu bukanlah iman yang sebenarnya. Justru untuk melatih iman kita, kita harus berani mengucapkan iman yang Tuhan berikan kepada kita, sebelum hal itu terjadi.


Kembali ke: