1. Pendahuluan
  1. Permasalahan
a. Pemilahan garis batas negara yang tidak melihat logika etnis dan perbedaan suku,  Kasus  Rwanda-Burundi  yang hingga  saat ini tetap menjadi persoalan yang  tak  terselesaikan  merupakan  contoh  dari  fenomena  tersebut, Dampaknya  adalah konflik antar etnis yang sangat  sukar untuk diselesaikan, walaupun telah ikut campurnya  kekuatan asing seperti tentara PBB serta memicu semangat irredentisme dan separatisme. Pemilahan garis batas yang menimbulkan konflik ini dahulunya dibuat oleh para penjajah untuk mengadu domba sesama bangsa Afrika.

Garis batas Etnis = Vertikal
Garis batas Negara = Horizontal
Wilayah suku Hutu = Wilayah Kuning
Wilayah suku Tutsi = Wilayah Ungu
 
 
HUTU                 Rwa
nda
Buru
ndi                   TUTSI
 

Gambar di atas menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya konflik etnis sangat rawan karena pemilahan garis batas negara tidak melihat logika etnis, dengan demikian bila konflik etnis di suatu negara bisa memancing kemarahan etnis yang sama di lain negara, disamping itu rasa kesukuan di Afrika sangatlah kuat. Hal demikian membuat Afrika terus dilanda konflik yang memerlukan perhatian penuh dibanding membangun sebuah negara menjadi maju. b. Politik Devide et Impera yang dilakukan penjajahan, Orang barat datang ke Afrika untuk mencapai kejayaan Gold Glory Gospel dengan cara apapun misalnya dengan mengadu domba sesama suku pedalaman Afrika, Membuat perlakuan yang berbeda antara sesama suku dan berbagai macam hal yang bisa membuat masing-masing suku berperang sendiri-sendiri, dan kemudian mengambil semua harta kekayaan alam Afrika untuk kepentingan penjajah pada waktu itu. Masyrakat Afrika hanya menjadi buruh dan budak penjajah sehingga tidak punya kesempatan untuk membangun negaranya.

c. Perbedaan Kesempatan Politik, Kedatangan penjajah barat di Afrika yang berniat mengambil harta kekayaan alam Afrika tidak memikirkan lagi kaidah atau etika balas budi terhadap tanah jajahan. Berkaitan dengan Politik Devide et Impera tersebut diatas, Kaum penjajah membeda-bedakan kesempatan atau hak-hak yang menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan. Contohnya Penjajah Belgia memberikan kemudahan kepada suku minoritas Tutsi daripada mayoritas Hutu dalam bidang pendidikan, kemiliteran dan hak-hak politik, sehingga sampai saat inipun masih berlangsung pertikaian antara suku Hutu dan Tutsi, Padahal jika kita tilik ke belakang, Sebelum tahun kedatangan Belgia di tahun 1916 Kedua suku tersebut hidup damai berdampingan.

d. Lemahnya legitimasi politik penguasa, Kebanyakan negara di Afrika adalah bekas negara jajahan baik yang diberi, dipersiapkan ataupun persemakmuran, oleh karena itu ketergantungan terhadap negara penjajah masih ada, disamping itu penguasa atau rejim di Afrika tidak mampu mengambil kepercayaan atau memperoleh legitimasi dario masyarakat dalam pemerintahan negara, karena seringkali penguasa-penguasa Afrika sering menggunakan cara-cara kekerasan/anarkhis untuk mendapatkan legitimasi itu. Frekuensi pergantian kekuasaan di negara-negara Afrika relatif sering sehingga kepercayaan masyarakat memudar untuk memberi legitimasi kepada yang berkuasa secara sah. Di Nigeria sampai terkadi 5 kali kudeta oleh militer dalam jangka waktu kurang lebih 15 tahun. Hal ini jika dipandang dari kacamata pembangunan dan investasi tentu sangat-sangat tidak kondusif.

e. Negara-negara Afrika rawan campur tangan asing, Setelah konflik yang melanda Afrika berkepanjangan dan tidak terselesaikan, langkah-langkah yang diambil para penguasa Afrika seringkali justru menimbulkan kompleksitas permasalahan seperti mengundang kekuatan asing untuk menyelesaikan masalah internal yang mengakibatkan berbagai masalah baru. Kekuatan asing seringkali tampil jika "diundang" oleh pihak dalam negeri semisal pemerintahan yang sah untuk membantu menumpas oposan, belum lagi jika para oposan juga memanggil kekuatan asing untuk campur tangan menggulingkan penguasa yang berkoalisi dengan kekuatan asing (biasanya negara penjajah) maka justru permasalahan semakin rumit. Para penguasa Afrika tidak segan mengeluarkan biaya untuk membiayai perang/pasukan asing daripada untuk membangun infrastruktur negara yang sangat penting bagi negara-negara berkembang seperti di Afrika.

f. Kemiskinan, Kemiskinan yang melanda Afrika menurut ilmuwan/politikus barat adalah kemiskinana yang struktural, disamping budaya Afrika yang mendukung demikian, Sejarah Afrika sebagai negara terjajah juga turut mempengaruhi kemiskinan Afrika, terlebih sekarang keberadaan Afrika sebagai negara dunia ketiga yang terbelit hutang-hutang luar negri serta pembiayaan negara yang seringkali dilanda konflik. Kondisi geografis Afrika yang dominan Gurun pasir dan Hutan perawan yang sangat luas, menyebabkan Afrika membutuhkan suplai pangan yang sangat besar. Kemiskinan yang melanda Afrika sudah sangat parah sehingga menimbulkan problem-problem baru yang kompleks seperti masalah pengungsi yang menyeberang batas negara karena kelaparan. Hal ini tentu membuat negara tetangga juga ditimpa masalah-masalah seperti suplai pangan, pengadaan kamp pengungsi, pemulangan pengungsi, stabilitas kawasan dan sebagainya.

g. Korupsi dan Kleptokrasi, Para penguasa di Afrika mempunyai budaya yang bertolak belakang dengan hakekat pembangunan, mereka bercorak elitis, status quo, mementingkan diri sendiri, arogan dan memupuk kekayaan dengan uang negara (penggelapan) di Bank-bank luar negeri. Mereka tidak melihat rakyat yang tertindas, dilanda konflik berkepanjangan, kelaparan dan berbagai masalah lainnya, bahkan kebanyakan pemimpin Afrika cenderung korup dan 


anarkis. Atas nama pembangunan mereka menumpuk kekayaan dari rakyat yang miskin.

3. Kesimpulan

Itulah beberapa hal yang menyebabkan negara-negara di Afrika terbelakang, tidak bisa membangun dan rawan konflik, Kerawanan konflik adalah kata kunci yang menjadi sukses atau tidaknya pembangunan berjalan di sebuah negara di Afrika, karena bagaimanapun juga bila dilihat dari perspektif ekonomi pembangunan , situasi seperti di Afrika jelas tidak memungkinkan untuk misalnya menanam modal, investasi dan merealisasikan program-program pembangunan baik jangka panjang maupun jangka pendek, belum lagi bantuan (utang) luar negeri yang seharusnya dialokasikan ke pos-pos pembangunan malah digunakan untuk untuk pembiayaan permasalahan lain seperti perang saudara, kelaparan, pembiayaan pasukan asing dan sebagainya. Hal initidak dapat dilepaskan pula dari budaya masyarakat dan sejarah Afrika yang sangat hitam. Sekitar pra dan pasca kemerdekaan negara-negara Afrika, dibentuk Organisasi persatuan Afrika dengan tujuan untuk memupuk rasa senasib sepenanggunagn sebagai negara terjajah, membantu kemerdekaan negara anggota, membuat aturan penyelesaian permasalahan antar anggota, membuat semacam dewan keamanan yang berhak menindak negara anggota yang tidak konsisten, dan sebagai wadah aspirasi Afrika. Akan teapi pada pelaksanaannya seringkali terjadi benturan-benturan antar negara anggota terutama didasarkan pada eks negara penjajah, seperti kelompok negara bekas jajahan perancis, jajahan Inggris dan jajahan negara lain seperti Bergia, Jerman, Portugis, Belanda. Masing-masing kelompok ini mengacu pada landasan aksi yang beragam seperti moderat, kompromis dan radikal. Organisasi ini tidak sepesat organisasi regional lainnya baik dalam bidang ekonomi ataupun pertahanan. Hanya saja negara-negara Afrika yang jumlahnya tidak sedikit, mampu mendominasi voting di PBB yang menetapkan asas Satu negara- Satu suara, sehingga disinilah letak peran penting negara Afrika di percaturan Organisasi Internasional, yaitu pada kuantitas negara yang berada pada lembaga juga semangat persaudaraan Afrika yang kadang memancing negara luar Afrika untuk menggandeng kelompok Afrika sebagai mitra dalam Organisasi Internasional. Seperti juga negara dunia ketiga lainnya, julukan negara berkembang terhadap negara-negara Afrika tetap akan disandang sampai akhir jaman apabila pihak yang berkompeten terhadap kompleksitas masalah di Afrika tidak saling membantu dan tidak menyadari pentingnya kelompok afrika dalam membantu negara-negara sesama dalam mencapai kemerdekaan semasa di jaman Konferensi Asia-Afrika.



 
Dibuat oleh Wardhono (HI Angkatan 94), Semasa mengambil mata Kuliah Studi Afrika dengan pengampu Drs Sidik Jatmika
Kembali ke Index