DIAN SASTRO:
Sempat Menarik Diri Karena Merasa Dihakimi


 

“TERNYATA Tuhan begitu baik dan sayang pada kita,” simpul Diandra Paramitha Sastrowardoyo, 21, atau tenar sebagai Dian Sastro saja. Kesimpulan itu dipetiknya setelah membaca Conversations With God, buku favoritnya saat ini. Kesimpulan Dian mungkin terkesan naif. Tapi mungkin juga tidak, kalau kita tahu cerita masa kecilnya. Dian Sastro, seperti katanya berkali-kali pada media, memang jauh berbeda dari Cinta di Ada Apa Dengan Cinta? -- A2DC, 2002, film yang menjadikannya aktris muda paling penting di tanah air saat ini.

Lahir sebagai anak tunggal pasangan Ariawan Rusdianto Sastrowardoyo-Dewi Parwati Setyorini, Dian pernah merasa tak nyaman dengan keluarganya. Ayahnya suka bermeditasi, tidak bekerja, jarang makan, dan mandi, serta hidup menyendiri. “Seperti tidak pernah punya ayah saja,” cetus pemetik gitar yang suka bernyanyi ini. Orangtuanya bercerai saat Dian kelas 3 SD dan ayah yang asing dari putrinya itu meninggal pada 1995, persis ketika ibu Dian sekolah di Filipina. Bayangkanlah sepinya.

“Waktu ayah dan ibu bercerai, aku hampir tak merasakan apa-apa. Juga waktu ayah meninggal,” ungkapnya jujur. Setelah besar, baru Dian terpanggil untuk mengenal ayahnya lewat buku-buku yang dulu dilahap almarhum. Mata Dian pun terbuka. Ternyata, ucapnya, ayah tak seaneh yang ia dikira dan malahan punya kemiripan dengannya.

Dibesarkan seorang wanita karier yang amat percaya pentingnya pendidikan, Dian tumbuh sebagai pribadi yang banyak menahan keinginan. “Saya nggak pernah minta dibelikan baju, nggak berani minta dibelikan mainan. Kalau mau barang baru, ya harus menabung dulu sampai uangnya cukup,” kenangnya. Sesudah jadi Gadis Sampul pun, Dian masih hidup sederhana. Berbeda dengan teman-temannya di sebuah sekolah swasta ternama, pemilik rambut panjang berperawakan 162 cm/46 kg ini berpenampilan biasa-biasa saja. Dia berangsur-angsur mempermodis penampilannya setelah bisa cari duit sendiri. “Mama kecewa dan protes melihat aku jadi gaya. Tapi aku membuktikan diri tetap anak baik dengan mempertahankan prestasi sekolah,” katanya.

Dian ingat, ibunya yang kini berkarier di sebuah bank itu selalu bilang, “Mama bukan orang kaya, Di. Mama nggak sanggup punya anak yang nggak pintar.” Sampai sekarang, syukurlah, Dian bisa menjaga kepercayaan ibunya. Setelah meninggalkan Fakultas Hukum Universitas Indonesia lantaran sibuk mempromosikan A2DC, Dian membuktikan keenceran otaknya dengan lulus UMPTN kedua kalinya. Kini dia belajar filsafat di universitas yang sama.

Serupa bintang muda di mana pun, Dian ingin dianggap serius. Ia pun menolak main sinetron dan dituduh sok. Ia juga suka membicarakan minatnya pada buku-buku “susah”, dan kena cap sok pula. Cap yang sama didapatnya sekali lagi saat dianggap tidak kooperatif dengan media. “Saya memang pernah menarik diri dari sorotan media, karena merasa dihakimi. Wartawan pun kadang tak mengerti kesibukan saya membagi waktu. Mempromosikan film itu makan energi, lho. Mungkin saya belum siap berhadapan dengan media,” jelasnya.

Itulah susahnya. Wartawan masih belum puas mengenalnya dan menyorot wajahnya yang suka dibilang mirip Ria Irawan, Maudy Kusnaedi, Iga Mawarni, Lola Amaria, dan bahkan Oscar Lawalata. Dian boleh mirip satu atau dua wajah di atas, tapi dia telah membuktikan sebagai pribadi tersendiri yang sukar ditiru. ndra/dee

Tak Lagi Malu Soal Keluarga

Terus terang nih, saya pernah malu punya ayah seperti almarhum bapak saya. Dia belajar sastra Cina di Universitas Indonesia dan banyak yang bilang dia itu idealis dan berani. Dia rajin bermeditasi dan sewaktu meninggal memeluk agama Budha. Tapi yang paling saya ingat dari bapak sifatnya yang nyentrik. Saking nyentriknya, saya sampai malu. Dulu waktu saya kecil, bapak masih suka jemput saya ke sekolah. Kadang dia lupa jam berapa saya pulang. Bapak datang dengan baju berantakan dan mobil yang kotor. Padahal orangnya good looking. Tapi karena nggak terurus, badannya gemuk. Teman-teman suka heran lihat penampilan bapak dan tanya di mana bapak bekerja. Wah, saya malu dan bingung mau jawab apa. Soalnya yang cari uang kan ibu.

Sekarang sih saya sudah tidak malu lagi. Ternyata banyak juga orang yang kenal bapak dan sekarang baik-baik sama saya. Waktu kuliah dulu, ayah seangkatan dengan Om Tino Saroengallo yang memproduseri Pasir Berbisik. Jadi Om Tino itu baik sekali, menjaga saya seperti bapak sendiri. Karena bapak jarang di rumah, saya lebih dekat dengan ibu. Justru kalau bapak sedang mau dekat, saya jadi merasa canggung. Dia lebih banyak tinggal sendiri dan hidupnya nggak teratur. Saat meninggal di badannya banyak penyakit, dari lever, asam urat, empedu, juga maag.

Ibu lain sekali dari ayah. Dia bekerja sangat keras dan saya diajar untuk mandiri. Waktu kecil, saya suka ditinggal ibu yang sibuk kerja. Makanya, walau anak tunggal, saya nggak pernah merasa dimanjakan. Ibu juga suka baca buku dan saya diajar menyenangi karya sastra. Biarpun sekarang saya sudah bisa cari duit, itu belum dirasa cukup oleh ibu yang mementingkan pendidikan. Ibu bilang, yang sekarang saya dapat hanya sementara sifatnya. Keberhasilan saya sekarang lebih banyak ditentukan faktor keberuntungan, jadi nggak masuk hitungan ibu. Saya harus terus belajar, punya karier, kalau mungkin punya usaha sendiri.

Sampai sekarang saya belum tahu mau serius di bidang apa nanti. Rasanya sih harus kuliah S2 supaya lebih mantap. Mungkin bukan belajar filsafat lagi, tapi bidang yang lebih praktis. Sekarang saya tinggal dengan Tante Marina yang punya dua anak, Kak Ari dan Kak Fafadh. Ibu sekarang punya kehidupan baru dan saya nggak mau mengganggu. Tapi kami masih terus berhubungan, bahkan dekat sekali.

Dikerubuti Penggemar di Malaysia

Belum lama ini saya dan Nicholas -- Saputra, dikirim ke Malaysia oleh Miles Productions. Wah, kaget sekali kami karena sambutannya nggak kalah meriah dengan yang kami terima waktu promosi A2DC di Bandung. Baru sampai bandara saja, yang mengelilingi kami sudah banyak sekali. Nggak kira, ada yang sudah menonton VCD, banyak juga yang bajakan, A2DC sampai 40 kali. Tahun ini sebenarnya saya dapat tawaran main film lagi. Salah satunya dari Rizal Mantovani yang mau bikin film Dan, diilhami dari lagu Sheila on 7. Tapi sampai sekarang saya belum baca naskahnya. Kalau bentrok dengan jadwal kuliah, rasanya susah menyanggupi.

Saya sendiri sebenarnya nggak mau main film lagi kalau kemampuan akting saya masih begini-begini saja. Bersama teman-teman, seperti Rachel Maryam, Marcella Zallianty, dan beberapa lainnya saya berencana mau bikin workshop akting kecil-kecilan. Maunya sih kami minta waktu Om Didi Petet untuk membekali kami dengan ilmu akting. Sayang, sampai sekarang rencana ini belum terlaksana. Pokoknya saya sekarang mau push kuliah dulu. Kan banyak orang yang mempertanyakan keseriusan saya kuliah filsafat, termasuk wartawan. Seolah-olah saya kuliah cuma untuk bergaya. Padahal serius sekali.

IKLAN LUX: Sampai 22 Kali Take

Untuk membuat iklan Lux versi Heartbeat yang mulai diputar di teve, Dian dan mamanya terbang ke Bangkok, Thailand selama 6 hari pada 8 sampai 15 November 2002 lalu. Tiga hari pertama digunakan untuk berlatih, dan sisanya untuk pengambilan gambar. Sutradaranya seorang Argentina yang sudah 10 tahun menetap di Thailand. Masa syuting ini lebih singkat dibanding iklan Lux sebelumnya yang sampai 10 hari. Tapi tingkat kesulitannya sih sebanding. “Untuk ambil gambar saya sedang mandi saja sampai 22 kali take,” cerita Dian dengan semangat. Ada juga pengambilan gambar di kolam renang yang membuat Dian kedinginan dan pilek.

Sebagai model profesional, Dian tahu kontrak bernilai tinggi yang dikantongi menuntutnya bersikap sesuai produk yang diiklankan. “Saya sadar sekarang harus lebih berhati-hati. Kalau mau menentukan sesuatu, saya harus berpikir dua kali,” tegasnya. Salah satunya, dengan setia menggunakan sabun Lux. Dian bilang, setiap hari ia mandi dengan menggunakan sabun Lux biru yang mengandung aloe vera -- lidah buaya, untuk melembutkan dan orchid -- anggrek, untuk mengharumkan kulit. Biiarpun masih muda usia, Dian sudah rajin merawat kulitnya. Pernah ia lupa membeli susu pembersih wajah dan pergi tidur dengan wajah kotor. Akibatnya, wajahnya diganggu jerawat merah yang mengganggu penampilannya.

Enaknya jadi bintang Lux, Dian bisa mempromosikan Lux ke ke Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, dan Medan bersama bintang-bintang Lux lainnya. Sambil sekalian menengok penggemar ya, Di?

HAYUNAJI: Sering Ditanya Bagaimana Rasanya Pacaran dengan Dian Sastro

Ini dia Rangga-nya Dian Sastro. Hayunaji, 30, namanya atau akrab sebagai Iyun. Sehari-hari Iyun ngantor di Bank Universal sebagai Investor Relations – Corporate Secretary & Public Relations. Malam hari dia biasa meluangkan waktu berlatih musik dengan rekan-rekannya di band Discus. Band beraliran progresif itu dilibatinya sejak 1996. Iyun yang penabuh drum serta pemain perkusi ini juga bergabung dengan Pause, grup rock yang dicandai Dian sebagai “rock-nya jenis yang nggak jelas gitu deh!”

Seperti belum cukup sibuk, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini suka menyumbangkan suara drum untuk band lain, termasuk untuk album soundtrack film A2DC yang digarap Anto Hoed dan Melly. Nah, dalam penggarapan album itulah Dian bertemu Iyun. Mungkin bukan pertemuan pertama, sebab seperti dibilang Iyun, “Kami ini masih bersaudara jauh. Om dia dan Tante saya menikah. Jadi kami terhitung sepupu.” Mungkin saja waktu kecil dulu mereka pernah bertemu di acara keluarga.

Iyun yang semasa kuliah aktif di organisasi mahasiswa pecinta alam -- MAPALA UI, ini, belum pernah menyaksikan akting Dian di Bintang Jatuh dan Pasir Berbisik ketika mereka beradu pandang di usia dewasa. Ceritanya, Iyun yang menyumbangkan suara drum untuk album soundtrack film A2DC. Dalam album yang berisi 11 lagu itu, Iyun main drum untuk 4 lagu, termasuk Tentang Seseorang yang indah itu. Sama-sama sibuk, Dian dan Iyun belum pernah lagi bertemu sampai A2DC di-premiere-kan di Jakarta pada Februari 2002 lalu.

Boleh dibilang, dari peran Dian sebagai Cinta-lah Iyun mengenal pacarnya. Setelah 6 bulan bersama, adakah Iyun menangkap perbedaan antara Dian dengan Cinta, atau justru mirip sekali? “Beda banget,” sahut Iyun yang bersama band Discus merisilis album perdana mereka melalui sebuah perusahaan rekaman yang berkedudukan di Italia. “Dian sehari-hari itu lebih dewasa dari usianya. Pikirannya jauh ke depan,” pujinya dengan suara kalem. Kedewasaan Dian jadi mendekatkan jarak usia mereka yang sampai 10 tahun. Begitupun, mereka sadar angka 10 tahun itu punya peran dalam membentuk hubungan mereka. Dengan berseloroh Dian bercerita, “Sampai sekarang saya masih suka geli mengingat Iyun tuh sudah kuliah waktu aku baru 10 tahun. Ya ampuuuun!”

Dian, kata Iyun, tampaknya sadar benar soal perbedaan usia itu. “Kalau saya ajak pergi ke lingkungan saya, saya perhatikan dia pilih pakaian yang potongannya lain dibanding yang dia pakai sehari-hari,” ceritanya. Tapi Iyun sendiri jarang mengajak Dian kumpul-kumpul dengan lingkungannya. “Teman-teman saya kan sudah repot mengurus keluarga masing-masing,” jelasnya.

Kalau begitu berbeda, apa yang menyatukan mereka? Tidak lain minat yang sama besar pada seni. “Dian juga teman ngobrol yang asyik. Kami bisa ngobrol segala hal, dari soal musik, masalah sosial, sampai spiritual,” masih kata Iyun. Pembicaraan mereka kadang berkembang dari yang enteng sampai yang berat dan tidak jarang berakhir dengan pertengkaran, kata Iyun sambil tertawa pelan. Yang pasti, lelaki yang semasa kuliah dilirik banyak mahasiswi dari segala fakultas ini, tidak pernah minta pacarnya yang cantik itu menemaninya berlatih musik. “Wah, dia bisa bete!” seru Iyun.

Yang dikagumi Iyun dari pacarnya yang gemar tidur siang dan doyan makan itu -- “Nggak apa-apa, biar sehat,” cetusnya, tidak lain keikhlasannya menerima masa lalunya yang tak semanis dibayangkan orang. Tanpa rasa ikhlas itu, tidak mungkin Dian bisa menceritakan masa kecilnya dengan tenang dan lancar seperti sekarang. “Dia pernah cerita soal almarhum ayahnya yang suka bicara sendiri dengan pohon. Dian bilang dulu dia suka menertawakan tingkah ayahnya yang aneh. Tapi sekarang dia mengerti mengapa ayahnya begitu. Saya lihat dia bisa menerima kenyataan soal kesenimanan ayahnya. Dian juga cerita pada saya, dia memaklumi sekali kondisi ibunya yang pekerja keras dan sangat disiplin,” Iyun bercerita panjang lebar.

Iyun menyebut, banyak teman yang menanyakan bagaimana perasaannya telah memenangkan hati gadis yang diidolakan banyak orang. “Iya, banyak sekali teman yang tanya bagaimana rasanya pacaran dengan Dian Sastro, bikin banyak cowok iri,” ceritanya dengan geli. Setelah diam beberapa saat, ia menyambung ucapannya, “Mestinya sih memang banyak yang iri, ya?” Memang. Mengaku serius dengan Dian –- demikian Dian sebaliknya -— Iyun toh tak berani memastikan kelanjutan hubungan mereka. “Niat saya sih baik. Tapi kan hanya Tuhan yang tahu,” demikian Iyun.

dr. SUMARSONO SASTROWARDOYO: Cucu Saya Pekerja Keras

Di keluarga Sastrowardoyo, bukan hanya Dian yang terjun sebagai pelakon seni dan jadi figur publik. Aswin Sastrowardoyo yang pada tahun 80-an dikenal sebagai gitaris band Chaseiro, tidak lain Om Dian. Kini Aswin berprofesi sebagai ginekolog dan bertugas di Kalimantan. Istri Aswin, Ika Sastrowardoyo, dulunya model yang pernah menjadi presenter acara Celah Belanja, SCTV, di awal tahun 90-an. Ada pula Marina Sastrowardoyo yang setelah menikah dikenal dengan Marina Joesoef, Putri Remaja Indonesia 1975, ajang pemilihan remaja putri berprestasi yang diadakan majalah remaja Gadis.

Ketika dipuji mengenai anak-anak dan cucunya yang “hebat-hebat”, dr. Sumarsono Sastrowardoyo, 80, yang menemani Dian selama pemotretan 2 jam penuh di redaksi Bintang merendah, “Ah, banyak juga yang tidak hebat-hebat.” Dokter bedah yang kakak -- mendiang, sastrawan Subagio Sastrowardoyo ini, masih praktek 4 kali seminggu di sebuah klinik di gedung Sarinah, Jakarta. “Peran saya di klinik lebih untuk memberikan pengarahan,” jelas kakek yang tampak sayang betul pada cucunya itu. Mengapa Pak Sumarsono yang berasal dari Madiun, Jawa Timur, ini masih mau bekerja di usianya yang setinggi itu? “Habis, masak saya mau menggantungkan diri pada anak-anak saya. Kasihan dong. Kalau saya beli televisi baru, masak saya harus minta uang pada anak?” jelasnya.

Kemandirian Pak Sumarsono menurun pada cucunya. “Dian itu mandiri dan pekerja keras,” beritahu sang kakek yang pernah menerbitkan sebuah novel berjudul Berjalan ke Timur. Meski keluarga mereka tak asing dengan pentas hiburan, Dian meniti karier dengan jerih-payah sendiri. “Orang-orang zaman sekarang kan nggak kenal Om Aswin -- gitaris dan vokalis band Chaseiro yang populer di tahun 80-an, atau Tante Marina -- Putri Remaja Indonesia 1975, atau Tante Ika -- model tahun 70-an,” kata Dian. Sementara sang kakek kaget mengetahui Bintang tahu nama-nama yang disebutkan cucunya.

Melihat Dian sesukses sekarang, Pak Sumarsono tak bisa lain kecuali kagum dan salut. “Kalau lihat nilai kontraknya dengan Lux, memang besar. Tapi orang kan nggak tahu kalau dia bekerja keras. Coba lihat, untuk pemotretan ini saja dia harus foto begini lama,” kata Pak Sumarsono yang sedang bingung memikirkan mau disumbangkan ke mana koleksi buku mendiang Subagio Sastrowardoyo yang kini disimpan di rumah mereka.

Di keluarga Sastrowardoyo, ada kecenderungan untuk lebih mempelajari ilmu sosial ketimbang ilmu pasti. Pak Sumarsono termasuk dalam keluarga Sastrowardoyo yang minoritas, karena mempelajari ilmu bedah, bahkan sampai ke Amerika Serikat dan Belanda. Sastrowardoyo-Sastrowardoyo lain lebih menekuni sastra, filsafat, dan ilmu-ilmu humaniora lainnya, termasuk Dian.

RUDI SOEDJARWO: Pertama Melihat Dian, Merasa Mengalami Deja Vu

Hingga kini, Rudi Soejarwo, 32, masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Dian. Kejadiannya sekitar tahun 1999, ketika mempersiapkan pembuatan film Bintang Jatuh. “Dengan bantuan seorang teman, saya mulai mengkasting beberapa remaja putri untuk memerankan Donna, tokoh utamanya. Sebagai sutradara baru, saya menyederhanakan proses kasting. Sebelum bertemu dan menjatuhkan pilihan pada Dian, saya buta soal latar belakangnya sebagai Gadis Sampul. Saya terpukau melihat Dian yang turun dari mobil dengan gaya yang lincah dan energik. Saat itu saya merasakan deja vu -- perasaan aneh bahwa dalam beberapa haal seseorang telah mengalami apa yang sedang terjadi saat ini -red. Saya lalu tersadar, gadis yang saya lihat itu penjelmaan Donna,” Rudi bercerita panjang lebar.

Mengapa akhirnya pilihan dijatuhkan kepada Dian? “Alasannya bukan karena dia cantik, tapi karena saya merasakan ada energi yang besar dalam dirinya,” tutur pria yang selalu bicara dengan antusias ini. Dalam ingatan Rudi, Dian berakting dengan polos tanpa sentuhan norma-norma akting. Karena Bintang Jatuh film pertama Dian, Rudi mudah mengarahkannya. “Selama syuting saya amati hasratnya belajar akting sangat tinggi. Hasilnya bisa dilihat ketika menyutradarai dia lagi di A2DC. Ketika syuting dimulai, tidak ada lagi Dian di depan kamera, yang ada hanya Cinta. Padahal ketika menggarap Bintang Jatuh, sesekali saya masih merasakan kehadiran Dian di tengah-tengah Donna. Begitu juga ketika saya nonton Dian di Pasir Berbisik,” jelas sutradara yang pertengahan Februari ini mempersembahkan komedi romantik Rumah Ketujuh bersama Miles Productions.

Di luar keberhasilan Dian menyelami karakter Cinta, Rudi melihat mulai ada beban di pundak Dian. Kelincahannya di Bintang Jatuh tidak lagi sama. “Mungkin karena dia menjadi lebih dewasa,” duga Rudi. Baginya, Dian memiliki kekhasan yang membedakannya dari bintang remaja lainnya. Daya tarik utama ada di wajahnya yang multiekspresi. “Caranya tertawa, sedih, atau marah sangat ekspresif. Penonton tidak bakal bosan memandang wajahnya. Dia punya karisma di depan kamera,” begitu Rudi memuji bintang yang dilejitkannya.

“Sebagai orang yang sudah bekerja sama dalam dua produksi dengan Dian, saya terhitung intens mengamati perkembangan kariernya. Di luar syuting, saya dan Dian jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Mungkin karena generasinya sudah berbeda, ya? Saya justru bingung harus ngobrol apa dengah Dian selain soal pekerjaan,” Rudi menutup pembicaraan.

TOMMY F. AWUY: Paham Mengapa Dian Kuliah di Filsafat

Beda dengan Rudi, Tommy F. Awuy yang mengajar filsafat di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Institut Kesenian Jakarta sudah lama mengamati Dian. Pengamatannya bahkan sudah dimulai sejak Dian memenangkan gelar Gadis Sampul 6 tahun lalu. “Sebelum bertemu langsung dengan Dian, saya sudah dengar dari beberapa teman kalau dia tertarik mengambil kuliah filsafat. Bagi saya, ini surprise besar. Tapi setelah tahu latar belakang keluarganya, saya bisa memahami hasratnya. Nenek dia pernah menjadi dosen filsafat di Universitas Indonesia. Ayahnya juga terkenal menggandrungi filsafat,” terang Tommy.

Perkenalan Tommy secara personal dengan mahasiswinya berlangsung setelah Dian selesai syuting Pasir Berbisik. Kontak mereka semakin intens ketika Dian pindah dari fakultas hukum universitas yang sama ke fakultas filsafat melalui jalur UMPTN. “Dian mahasiswa saya untuk mata kuliah Filsafat Sosial sejak dia masuk semester tiga ini. Saya lihat Dian tipe mahasiswa yang haus ilmu. Sebelum mengambil mata kuliah yang saya ajarkan, kami sudah sering berdiskusi mengenai filsafat dan saya memberikan beberapa buku acuan. Kami sering bertemu di toko buku dan ngobrol banyak mengenai pengenalan filsafat bagi pemula,” Tommy menjelaskan hubungannya dengan Dian.

Pria yang ikut pementasan Gallery of Kisses bersama antara lain Rachel Maryam, Syaharani, dan Rudy Wowor ini, memuji kegetolan Dian mencari hakekat hidup, seperti tercermin dalam diskusi-diskusi mereka. Kata Tommy, “Pernyataan dan pertanyaan yang diajukannya sangat menarik. Dari situ bisa diukur kualitas filosofisnya. Saya melihat Dian punya kapasitas untuk belajar filsafat, karena dia suka berpikir dan membaca.”

Selama mengajar Dian, Tommy merasa tidak pernah melihat Dian mengalami star syndrom. “Sama saja seperti mahasiswa lain. Saya cuma melihat dia sulit mengatur jadwal kuliah dan jadwal syuting,” jelasnya. Tommy juga mengamati, Dian punya bakat menulis yang lumayan. “Saya tunggu Dian mengekspresikan diri lewat tulisan-tulisannya,” ucap pak dosen berambut gondrong yang, menurut cerita Dian, pernah datang ke kelas saat ujian dengan berkaca mata hitam.

3 FILM DIAN SASTRO

Penggemar berat Dian Sastro? Jangan mengangguk dulu kalau cuma pernah melihat aksinya di A2DC. Dua film Dian sebelumnya, Bintang Jatuh dan Pasir Berbisik, perlu juga ditonton. Berikut panduan untuk yang mau kenal Dian lebih dekat. Semuanya sudah dijual dalam bentuk VCD, dan DVD untuk A2DC. Happy watching!

Bintang Jatuh

(2001, Rudi Soedjarwo, KipasComm)

Ini film pertama Rudi yang dibuat dengan spirit independen. Peredarannya hanya melalui roadshow di beberapa kota besar dan menggunakan teknologi digital demi menekan biaya produksi. Ceritanya soal cinta yang dipendam Donna -- Dian Sastro, pada teman baiknya, Aira -- Daniel Arizona. Merusak persahabatan dengan cinta dirasa tak bijaksana, maka Donna diam-diam mengamati Aira yang jatuh cinta pada Shelly -- Marcella Zallianty, bunga kampus. Cinta Donna jadi rahasia besar, yang kemudian bocor ke Deryl -- Indra Birowo, teman Donna dan Aira. Deryl membisikkan rahasia itu ke kuping Aira yang kemudian tergoda mempertanyakan kemungkinan membalas cinta Donna atau terus saja dengan Shelly.

Film: *

Akting Dian: **


Pasir Berbisik

(2001, Nan Triveni Achnas, Salto Productions)

Karena diedarkan terbatas, Bintang Jatuh hanya dikenal segelintir kalangan. Tapi sutradara Nan Triveni Achnas terus mengingat wajah Dian dan mengundangnya main bersisian dengan Christine Hakim dan Slamet Raharjo. Rasanya Nan masih belum lepas dari rasa kagumnya pada kecantikan Dian. Di film bergambar indah ini, wajah Dian yang melankolis bagai dipuitis-puitiskan dengan latar yang menakjubkan, meski berbalut pasir dan debu serta wajah coreng-moreng. Dian mengisi peran Daya, gadis yang terkekang oleh kepicikan ibunya -- Christine Hakim, dan kesemena-menaan ayahnya -- Slamet Rahardjo. Peran yang riskan, karena ada adegan yang menampakkannya sedang masturbasi atas suruhan pria hidung belang, diperankan amat baik oleh Didi Petet.

Film: *

Akting Dian: **

Penghargaan: - Aktris Terbaik Du Film Asiatique Deauville Film Festival 2002, Paris

- Aktris Terbaik Singapore International Film Festival 2002

Ada Apa Dengan Cinta?

(2002, Rudi Soejarwo, Miles Productions)

Mestinya A2DC jadi film wajib tonton tidak hanya bagi remaja, tapi juga orangtua yang pengin memahami tantangan yang dihadapi remaja saat jatuh cinta. Kalau tak salah duga, rasanya A2DC justru lebih mendatangkan resonansi pada penonton dewasa. Pesan seize the day ditebar di film yang bikin banyak orang tersedu-sedan ini, terutama dari soundtrack-nya -- “Kuingin nikmati, segala jalan yanng ada di hadapku”, “Aku ingin ikuti kata jiwa hati remaja”.

Yang jadi bintang di film ini tak lain tak bukan Dian Sastro. Dari menit pertama hingga akhir ia meyakinkan kita betapa memang seorang gadis seperti Cinta pantas mendapatkan cinta yang diburunya.

Film: *

Akting Dian: ***

Penghargaan: Aktris Terpuji Forum Film Bandung